2 SOULS (That Guy#2)

2 SOULS

AUTHOR
♥ Honeykimj ♥
 
Also visit my blog : www.honeykimj23.blogspot.com

@Honeykimj
Sehun, Sera, Chanyeol

Romance, fantasy, psycho, school life

PG 17

Chapter

(That Guy#2)

“Hai..,” Seulra tersenyum ramah pada Sehun yang lebih dulu tiba di sekolah.

Gadis itu tiba di kelas, membawa setumpuk buku yang bisa dipastikan cukup berat. Maklum, kemarin ia hanya menyanggupi untuk mengambil setengahnya. Tidak mungkin membawanya sekaligus, setengahnya saja seperti sekarang sudah membuat gadis itu kerepotan.

“Aku mengambil buku yang belum sempat kuambil kemarin. Sungguh merepotkan,” suara gadis itu seolah berbisik.

Sehun hanya tersenyum sambil memperhatikan apa yang dilakukan Sera. Baginya itu semua begitu menarik minat dan ia sangat menyukainya.

***

Namja itu baru saja tiba di rumah yang ia cari. Ia memastikan lagi alamatnya yang ada di kertas.

“Ah, benar. Inilah rumah Sera.”

Setelah keluar namja jangkung itu menatap lurus ke arah pintu dan menekan bel. Setelah tekanan bel yang ke 2, pintu di hadapannya terbuka. Namja itu tersenyum ramah pada ahjumma yang berdiri di depannya.

“Selamat pagi. Apa benar ini kediaman Park Sera?” Namja itu bicara seformal mungkin.

“Oh, ne. Ada perlu apa?”

“Saya Park Chanyeol, temannya. Kami juga bertetangga dulu,” senyum masih belum luntur pada wajahnya.

“Begitu. Baiklah, silahkan masuk dulu Tuan Chanyeol.”

Chanyeol duduk di ruang tamu. Sementara Jim Ahjumma naik ke lantai atas untuk memberitahu kedatangan tamu untuk gadis itu.

Jim Ahjumma mengetuk pintu kayu itu beberapa kali.

“Ya. Masuk..,” sahutan dari dalam.

“Nona, ada Tuan Chanyeol di bawah.”

“Ah..! Jinjja?”

Sera cepat-cepat turun dari ranjang dan melangkah ke pintu. Ia berjalan cepat bahkan berlari ke lantai dasar.

“Chanyeol-ah..! Kau cepat sekali datang,”

Chanyeol mengekspresikan perasaannya yang kecewa, ” Kau ini, kenapa bicara seolah kau tidak suka atas kedatanganku. Harusnya kau senang aku datang. Aku kan temanmu sejak kecil. Apa kau tidak merindukanku? Lagi pula ini kan hari minggu. Jadi, ini hari yang tepat untuk berkunjung.”

“Aku bercanda. Tentu saja, aku senang kau datang kemari. Tidak usah marah seperti itu,” Sera menarik kedua sisi bibinya, membentuk senyuman.

“Siapa yang marah? Aku tidak marah,”

Jim ahjumma menginterupsi mereka berdua dengan membawakan dua gelas orange juice. Chanyeol langsung tersenyum ramah bak seorang namja yang sangat cool dengan kedatangan Jim ahjumma.

“Tidak usah pura-pura dengan ekspresimu itu, Chanyeol-ah. Jim ahjumma sudah melihat kau dengan ekspresi kekanakanmu tadi.”

Chanyeol langsung menunjukkan ekspresi, jangan mempermalukanku.

“Tidak perlu sungkan. Saya tidak akan bicara pada orang lain mengenai kelakuan anda, Tuan Chanyeol,” Jim ahjumma sengaja menggoda bocah tinggi itu.

“Ya, ahjumma. Jangan jadi seperti Sera juga. Dia suka sekali mengolok-olokku.”

Jim ahjumma hanya tersenyum menahan tawa meninggalkan ruang tamu dimana kedua sahabat karib itu sibuk saling mengejek.

“Sera, ayo kita pergi.”

“Hah, pergi? Memangnya mau kemana?”

“Terserah, entah ke bioskop atau ke taman bermain, mungkin?”

“I prefer to go somewhere that really necessary this time,” Sera beranjak dari sofa.

“Where is it?” Chanyeol menahan gadis itu.

“Super Market,” Sera langsung meninggalkan namja itu yang menatapnya tidak percaya.

Ya!! Dia malah mau ke Super Market. Bukannya pergi denganku ke tempat hangout. Dasar menyebalkan. Kapan dia mau sedikit romantis padaku. Setidaknya anggaplah aku ini benar-benar sebagai seorang namja. Bukan hanya teman yang ia anggap tidak berkaitan dengan gender untuk diperlakukan. Aku ini namja.

***

Sehun menatap rumah di seberang dari kamarnya. Kenapa aku tidak kunjung bosan melihatnya. Iya begitu suka membaca novel rupanya. Kalau begitu, aku akan menghadiahinya novel saja nanti.

Pandangan Sehun teralih pada mobil hitam yang baru saja tiba di depan rumah gadis itu. Ia menyipitkan matanya, mencari tahu siapa yang ada di dalam mobil. Tak butuh waktu lama, seseorang keluar dari mobil itu.

Siapa dia?

Kata itu langsung terlintas di pikiran Sehun begitu melihat seorang namjalah yang menampakkan diri.

Sehun follows him with his eyes. Untill that guy come inside. He still waiting what will happen after that. During some minutes, there is no any movement around that house. Sehun not able to see through the dining room. The only section, he possible to see is Sera’s bedroom.

Sehun menangkap gadis itu memasuki kamar mandi yang ada di kamarnya dengan membawa pakaian.

Ia pasti ingin pergi.

Detik kemudian Sera keluar dengan dress pinknya. Gadis itu terlihat lebih cute lagi dengan apa yang dikenakannya saat ini. Ia mematut dirinya di depan cermin. Lalu mengambil tas dan meninggalkan ruangan itu.

Haruskah aku mengikutinya? Sehun segera menyambar jaket dan kunci mobilnya.

***

Sera turun dari tangga disambut oleh bidikan mata Chanyeol.

“Sebentar, aku minta daftar belanjaan dulu ya,” Seulra berlalu ke dapur.

“Ahjumma, dimana daftar belanja tadi?”

“Oh, ini nona,” wanita itu mengambil selembar kertas berukuran sedang di dalam laci.

“Ah, aku akan berbelanja sekarang. Tolong sampaikan pada eomma ya, kalau ia sudah pulang,” Seulra selesai meneguk air.

“Ya, tentu nona. Hati-hati di jalan.”

“Ne, kamsahamnida. Aku pergi.”

Sera menghampiri lagi Chanyeol di ruang tamu, usai menuntaskan rasa hausnya dan mengambil daftar belanja tentunya.

“Ayo kita pergi,” ajakan itu sukses membuat Chanyeol berdiri.

Mereka berjalan beriringan bak pasangan yang memang akan pergi berbelanja. Hal itu ditangkap oleh Sehun yang tengah menunggu mobil namja itu berlalu terlebih dahulu.

Ia sudah memutuskan untuk mengikuti kedua orang itu. Sekaligus mencari tahu, ada hubungan apa antara mereka berdua. Begitulah pikir Sehun.

***

Mereka berdua sudah duduk di dalam mobil, dalam perjalanan ke Super Market.

“Kau suka sekali mengajakku ke Super Market. Sejak dulu gitu. Lain kali ajak aku pergi ke tempat yang lebih romantis,” perkataan itu membuat Sera tertawa.

“Romantis? Kau seperti yeoja saja?”

“Kau ini. Aku serius,” Chanyeol masih konsentrasi menyetir sambil beradu mulut.

“Iya, iya, baiklah. Lain kali ya.”

Sehun melihat keduanya masuk ke dalam Super Market. Ia mengikuti mereka.

Sudah pasti Sera tidak mengenaliku sekarang.

Sehun yakin dengan penampilannya saat ini. Yeoja itu sama sekali tidak akan mengenalinya.

“Chanyeol-ah cepat ambil itu. Aku tidak sampai,” Sera menunjuk minyak goreng berukuran besar yang ada di deretan atas. Ia jelas tidak bisa menggapainya. Dan jelas saat itulah jasa seorang Chanyeol dibutuhkan. Dengan tubuh tingginya ia bisa membantu gadis itu berbelanja dengan mudah.

Sehun yang berdiri tidak jauh dari kedua orang itu, merasa muak dengan yang ia lihat. Chanyeol sedang mengambilkan minyak goreng yang ditunjuk oleh Sera. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang tengah belanja keperluan rumah.

Sera melihat daftar belanjanya telah terselesaikan. Ia dan Chanyeol membayar belanjaan mereka. Sementara Sehun langsung keluar dan menuju mobilnya.

Benar seperti dugaan Sehun. Mereka berdua tidak akan langsung pulang. Keduanya tengah berjalan memasuki sebuah restoran. Sehun menatap lekat gerak-gerik keduanya.

“Kau mau pesan apa, Sera-ya?” Chanyeol tersenyum manis.

“Aku ingin pesan black coffee dan juga capucino saja,”

“Kau tidak mau makan? Sebentar lagi waktu makan siang. Nanti kau sakit,” mimik Chanyeol menunjukkan bahwa ia sungguh khawatir.

“Ani, aku ingin makan di rumah.”

“Ya sudah, aku juga makan di rumahmu saja.”

Sehun mendengar suara mereka samar-samar. Ia tidak suka pada namja itu. Bahkan dari cara namja itu menghawatirkan Sera. Ia pun benci senyuman bodoh yang berkali-kali dipamerkan namja itu.

“Bagaimana kalau kita satu sekolah lagi. Aku ingin satu sekolah lagi denganmu. Sekolah terasa sangat sepi tanpamu. Aku mau pindah ke sekolahmu.”

“Kau ini, memangnya eommamu membiarkan kau pindah?”

“Tentu saja boleh. Aku kan sudah besar,” sungut Chanyeol kemudian.

“Tapi jaraknya cukup jauh dari rumahmu.”

“Tidak masalah. Malah lebih bagus lagi. Aku bisa selalu berbarengan denganmu saat pergi dan pulang sekolah seperti dulu.”

“Tidak usah, Chanyeol. Itu sangat merepotkanmu nanti.”

“Tidak merepotkan. Aku malah senang,” senyum Chanyeol mengalahkan argumen Sera. Ia memang tidak bisa berdebat dengan namja itu.

***

Aku mulai menyadari bahwa dia mulai mendekatiku. Tuhan apa yang kusadari ini benar? Apa dia sengaja mendekatiku. Apa ia menyukaiku? Aku mencintainya. Meskipun dia terlihat begitu misterius. Aku tetap menyukainya.

Sera menutup buku itu. Menghentikan dirinya membaca lebih jauh. Ia harus sekolah. Ini sudah hampir jam 6. Ia butuh waktu untuk bersiap-siap.

“Sehun-ah, kapan kita akan mengerjakan tugas tadi?”

Sera dan Sehun satu kelompok dalam pelajaran Matematika. Mereka harus mengerjakan soal hingga 50 buah. Sera tenang karena dia bersama Sehun. Sehun bisa diandalkan dalam hal ini.

“Setelah berganti pakaian, aku akan ke rumahmu,” mereka sama-sama merapikan barang mereka.

“Ayo,” Sehun berjalan mendahului Sera ke parkiran. Sudah lebih seminggu mereka selalu pulang bersama.

Bagus, akhirnya aku punya alasan untuk datang ke rumahnya. Untung kami ditempatkan pada kelompok yang sama.

“Tunggu aku,” Sehun tersenyum saat gadis itu baru saja turun dari mobilnya.

“Ne,”

Uh aku hampir mati karena senyumannya. Ini entah ke berapa kalinya ia tersenyum seperti itu membuatku tidak bisa berpikir jernih.

Sehun datang ke rumah seberang, setelah mengganti pakaiannya. Ia membawa buku dan lembar soal yang tadi diberikan guru mereka.

“Sehun-ah, kita kerjakan di kamarku saja ya? Kau langsung saja ke atas, kamarku mudah dikenali. Langsung masuk saja. Aku ke dapur sebentar. Oh ya, apa kau sudah makan?”

“Aku sudah makan tadi. Jangan lama-lama di dapur,” Sehun langsung mengambil langkah menaiki tangga.

“Ahjumma, aku dan Sehun mengerjakan tugas di kamarku. Nanti tolong antarkan makanan dan minuman ya,” Sera membuat Jim ahjumma menoleh dan menghentikan kegiatan cuci piringnya.

“Ah, ada Tuan Oh Sehun rupanya. Baik, nanti saya antarkan, Nona.”

Sera segera berjalan ke kamar. Saat ia memasuki ruangan itu, ia melihat Sehun sudah duduk di meja belajarnya.

“Sehun, kita kerjakan disini saja,” ia duduk di sofa yang di dekatnya ada sebuah meja yang cukup besar.

“Ok,” Sehun mendekati yeoja itu. Mereka sama-sama melorot ke bawah.

“Lebih nyaman di lantai saja. Kau juga bisa mengajariku, jika begini. Sera tersenyum.

Mereka mengerjakan tugas dalam diam. Beberapa kali Sehun memperhatikan Sera yang tidak berkutik dengan soal-soal itu dan mengajari gadis itu agar ia mengerti bagaimana mengerjakannya. Tapi berkali-kali pula ia gagal. Sera sedikit kebal dengan masalah hitung-hitungan semacam ini.

Cemilan yang tadi diantarkan ahjumma sudah berserakan kemana-mana karena ulah gadis itu. Ia lebih sibuk makan dari pada fokus pada soal.

Setelah beberapa jam berkutat dengan soal-soal yang memusingkan bagi gadis itu, ia tertidur tepat di atas meja. Kepalanya menghadap ke arah Sehun. Namja itu dapat melihat jelas setiap lekuk di wajah yeoja itu.

Kau begitu menawan. Apa kau juga menyukaiku, Sera?

Namja itu ingin menghentikan dorongan di dalam dirinya untuk menyentuh gadis itu. Namun itu sangat sulit. Tangannya sudah terulur segera mendekat ke wajah Sera. Ia mengelus pipi gadis itu. Sera hanya diam, seolah sudah benar-benar terbenam jauh ke dalam mimpi.

Hal itu sukses membuat Sehun ingin menambah kedekatan mereka. Ia perlahan mendekatkan wajahnya.

‘Cup’

Ia awalnya hanya menyentuhkan permukaan bibir mereka. Tapi saat ia menangkap tidak adanya reaksi dari Sera. Sehun merasa cukup aman untuk melakukan sedikit lebih. Ia mulai mengecup bibir merah itu, berulang kali. Sampai ia lupa sudah berapa lama ia sibuk dengan aktivitasnya itu.

Hembusan kasar nafas Sera membuat Sehun malah semakin menikmatinya. Ia bahkan bertambah agresif dalam melakukannya. Tak peduli bahwa gadis itu sekarang mulai terusik dengan hal itu.

“Eumh,” Sera membuka matanya.

Sera kaget setengah mati melihat apa yang tengah ada di hadapannya. Posisi Sehun yang sangat dekat, bahkan menyentuhnya.

Apa yang dilakukannya? Apa? Dia menciumku? Dia benar-benar melakukannya?

Sera seolah mati rasa karena otaknya yang terpaku pada wajah Sehun. Detik kemudian ia menyadari pikirannya benar. Sehun benar-benar menciumnya. Ia merasa ini keterlaluan memang. Tapi alih-alih menyatakan hal itu. Ia malah menggeliat seolah menikmati apa yang Sehun lakukan.

Sehun yang merasa tidak mendapatkan penolakan. Tidak menghentikan kegiatannya. Ia terus memperdalam lumatannya. Hingga terdengar erangan bahkan desahan kecil di tengah ciuman itu.

Sera menarik leher namja itu ketika ia baru ingin melepas tautan mereka. Membuat mereka melakukannya lagi. Sehun hampir gila.

Tidak! Aku bisa bertindak lebih, kalau tidak berhenti sekarang.

Sehun menyentuh tangan Sera yang berada di lehernya. Ia menjatuhkan tangan gadis itu. Tidak secara kasar memang, tapi hal itu jelas membuat gadis itu bertanya-tanya.

Apa dia marah padaku? Tidak Sehun tidak seharusnya marah. Satu-satunya orang yang harus marah adalah aku. Dia yang lancang menciumku saat aku bahkan tidak dalam keadaan sadar.

“Maafkan aku. Aku harus pulang,” Sera melihat Sehun melewati pintu kamar.

Ia bahkan tidak sanggup untuk berkata apapun. Lidahnya seakan keluh bahkan hanya untuk menjawab ya. Posisinya masih terduduk di dekat sofa.

Bukan salahku! Aku hanya merespon.

***

Setelah kejadian di kamar Sera itu, Sehun dan Sera tidak terlalu sering bicara. Mereka hanya bicara seperlunya. Walaupun mereka masih berangkat dan pulang sekolah bersama.

“Hari ini aku ada latihan basket,” ujar Sehun saat bel sudah berbunyi.

“Benarkah? Jadi kau anak basket? Aku baru tahu,” Sera menatap Sehun dengan matanya yang membesar.

“Menunggu atau pulang?”

“Menunggumu saja.”

Sehun segera meninggalkan kelas menuju lapangan basket indoor dan itu membuat Sera harus buru-buru mengejarnya dengan tas yang cukup berat.

“Tunggu aku,” gumamnya pelan.

***

“Sehun oppa..!!! Ah..!!” Teriak beberapa yeoja yang merupakan junior Sehun.

Yeoja-yeoja itu sedang sibuk menonton Sehun yang tengah latihan basket dengan teman-teman sesama anggotanya. Mereka histeris melihat namja tinggi itu berkali-kali memasukkan bola dengan sempurnah ke dalam ring. Maklum sudah beberapa minggu ini Sehun tidak datang latihan. Jadi, sekalinya ia datang, bisa membuat kegaduhan di dalam lapangan indoor ini.

Gee, aku bisa tuli kalau lama-lama disini. Sera pindah tempat duduk hingga berada di deretan palin bawah.

Sayangnya, latihan mereka ternyata telah usai. Sesosok namja berkulit tan mendatangi Sera yang tengah memperhatikan Sehun.

“Hai, kau anak baru ya?”

“Hemh, kau bicara denganku?”

“Memangnya siapa lagi?” Namja itu menampakkan senyum terbaiknya.

“Ah, begitu. Aku sudah masuk sekolah hampir sebulan,” ujar Sera sopan.

“Oh, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kau pasti selalu di kelas. Nah, aku KAI,” ini menyodorkan tangan di antara tembok pembatas antara lapangan dan bangku penonton,” Kau, siapa namamu? Kau kelas berapa? “

“Aku Park Sera. Kelas 11.1,” Sera sedikit ragu menjabat tangan namja itu.

“KAI!! Ayo cepat!” Sehun meneriaki KAI.

Sehun sengaja melakukannya agar namja player itu tidak membuat ulah pada gadisnya. Sera begitu baik bagi namja player macam KAI, pikirnya.

“Ah, aku pergi dulu.”

Namja itu berlari meninggalkan gadis itu sendirian di bangku penonton. Beberapa orang telah keluar dari area itu. Tidak lama berselang, anak-anak basket yang tadi latihan satu persatu keluar dari ruang ganti.

Mana Sehun? Dia lama sekali. Teman-temannya sudah banyak yang keluar.

 

Sera melihat namja itu lagi. Ia sudah mengenakan seragam sekolah seperti biasa. KAI menatap gadis yang masih betah duduk disana.

“Kau belum pulang?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Ada yang sedang kutunggu.”

“Oh, siapa?” Asked him.

“Temanku,” mendapat jawaban itu. KAI diam, dia menyadari gadis itu tidak mau mengatakannya. He will accept it.

“Aku bisa mengantarmu pulang?”

“Tidak usah, tidak perlu begitu,” Sera tersenyum kikuk.

KAI masih membujuknya agar mau pulang bersama. Hampir ia mau menerimanya, kalau tidak mendapat pesan dari Sehun.

From : Sehun

Ke ruang ganti sekarang. Penting.

“Maafkan aku, aku tidak bisa.”

“Ah, kau ini. Lain kali saja kalau begitu,”

“Ah, ye,” Sera tersenyum tidak enak. Tapi ia tidak mungkin mengabaikan Sehun. Hubungan mereka yang sudah buruk akan semakin buruk kalau dia mencari masalah sekarang.

***

Sehun duduk di bangku panjang di dekat loker. Ekspresinya datar tidak dapat diartikan. Sehun mendengar derap langkah mendekat.

Itu pasti dia.

Sehun segera berdiri di dekat pintu. Langkah itu semakin mendekat. Sera sudah berada di depan pintu ruang ganti. Ia memutar knop pintu dan melangkah masuk.

“Ah!!” Gadis itu berteriak saat ada orang yang menariknya dan mengunci bibirnya.

Ia memberontak minta dibebaskan. Beberapa lama ia melakukan itu. Namun gerakannya melemah saat ia melihat siapa yang ada di hadapannya.

Sehun!!

Sehun mengunci bibir gadis itu hingga nafas keduanya tersengal. Merasa tidak ada penolakan lagi, ia memindahkan tangannya ke tengkuk gadis itu, memperdalam ciumannya.

Gadis merasa gila. Ia seharusnya memberontak, menuntut penjelasan atas pelecehan terhadapnya. Bukannya, diam bahkan pasrah terhadap Sehun.

Sehun mulai bertindak lebih, ia membawa gadis itu ke bangku panjang yang tadi didudukinya tanpa melepas ciuman mereka.

Sera meringis tertahan oleh ciuman Sehun. Ia merasakan sakit di tubuh bagian belakangnya saat namja itu membaringkannya ke bangku kayu. Sehun menindih gadis itu, terlihat tergesah-gesah.

Sera merasa senang sekaligus marah pada Sehun. Sampai namja itu turun ke lehernya dan membuat erangan-erangan keluar dari bibirnya. Ia hampir tidak dapat menahan perlakuan namja itu hingga ia menyadari tangan namja itu bergerak menyingkap rok yang ia pakai.

Gadis itu menitikkan air mata dan langsung mendorong Sehun sekuat tenaga, “Stop!”

Sera membentak Sehun. Sehun langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat air mata yang perlahan menetes di wajah gadis yang dianggapnya sempurnah itu. Baru menyadari seberapa lancang ia sudah bertindak hingga membuat Sera menangis.

“Maaf,”

Sehun ingin mengatakan lebih dari kata itu. Mengatakan bahwa ia mencintai gadis itu dan tidak hanya menginginkan kehangatan gadis itu saja. Tapi lidahnya kelu, ia tidak sanggup mengatakannya.

Sehun malah menarik tasnya dan membawa Sera meninggalkan tempat itu. Sera tidak mengatakan apapun selama perjalanan pulang. Ia bahkan tidak menoleh dulu setelah keluar dari mobil Sehun. Sehun benar-benar menyesal tidak dapat mengatakan lebih dari kata maaf padanya.

Kenapa kau begitu bodoh, Sehun?

TBC

Advertisements

One thought on “2 SOULS (That Guy#2)

  1. Pingback: [FREELANCE] 2 SOULS | Gallery of Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s