2 SOULS (Gargeous#1)

2 SOULS

Author

Honeykimj

Sehun, Sera, Chanyeol

Romance, fantasy

PG 17

Chapter

(Gargeous#1)

“Apa kau sudah mengemas semua barangmu dengan baik?” Seorang wanita berdiri di ambang pintu bercat putih sambil membawa sebuah kardus sedang.
“Ya, aku hanya perlu mengangkatnya saja sekarang,” gadis itu tersenyum pada eommanya yang sibuk mengangkat semua barang-barang.

“Baiklah, eomma harus meletakkan ini di mobil pengangkut. Kau juga bergegaslah menaruh barangmu itu,” wanita paruh baya itu mengingatkan.

“Iya, eomma,” ini sudah hampir jam 10. Kemana namja jangkung itu? Gerutunya sebal.

Baru ia mau keluar dari kamar dengan kardus di tangan. Suara berat itu mengagetkannya.

“Mau kubantu?” Sera terlonjak, untung isi kardusnya tidak langsung menyeruak karena kelalayannya.

“Ya..! Kau mau membuatku mengalami accident pagi ini, Park Chanyeol?” Gadis itu berjalan keluar dengan kardusnya. Chanyeol cepat mengambil salah satu kardus terdekat dan mengikuti langkah gadis itu menuruni tangga.

“Kau benar-benar akan pindah?” Tanya Chanyeol setelah mereka meletakkan kardus-kardus itu ke mobil barang.

“Menurutmu?” Sera berjalan lagi ke atas. Mereka mulai bicara sambil berjalan.

“Aku benar-benar akan kesepian jika kau pindah?”

“Chanyeol-ah, aku hanya pindah rumah dan rumahku masih di Seoul. Kau tidak perlu merasa kesepian. Kau bisa mengendarai mobilmu dan beberapa menit setelahnya sampai di rumah baruku. Aku sudah memberikan alamatnya, kan?”

“Iya, tapi…ah ini terasa menyedihkan,” Chanyeol mempout bibirnya.

“Ya, Chanyeol-ah. Berhenti menjadi baby. Kau sudah besar..dan setinggi ini,” Sera tersenyum lalu terkikik.

Mereka terus mengobrol sambil memindahkan semua kardus-kardus barang. Hingga semuanya selesai dipindahkan. Dan tibalah waktu perpisahan sementara mereka. Setidaknya hanya beberapa KM. Namja itu sebenarnya masih bisa berkunjung.

“See you, Chanyeol-ah,” ia memeluk Chanyeol hangat sebagai teman yang selalu mengisi harinya sejak lahir ke dunia.

“Aku akan segera berkunjung!!” Teriak Chanyeol, mobil hitam itu berlalu dengan mobil barang yang mengikutinya.

***

Aku melihat rumah baru kami yang bercat putih kombinasi biru tua. Lebih luas dari rumah lama kami dan tentu bisa dibilang sangat luas untuk ditinggali oleh aku dan eomma.

“Selamat pagi, nona,” aku terkejut ketika seorang wanita yang lebih tua dari eommaku menyapa.

“Ah, pagi. Siapa ya?”

“Anda bisa memanggil saya Jim Ahjumma. Saya adalah pembantu dari pemilik terdahulu rumah ini. Sekarang eomma anda dan anda lah majikan saya,”

“Jim ahjumma, ah bisa bantu aku membawa barang-barang,” eommaku memotong pembicaraan kami.

“Tentu..,” teriak wanita paruh baya itu pada eomma, “Saya harus membantu eomma anda dulu. Nona bisa melihat-lihat sekitar.”

Jim ahjumma meninggalkanku yang berdiri di pekarangan. Jarak kami sekarang sekitar 5 meter. Aku menatap ke sekitar. Ternyata indah juga pemandangan disini, dipenuhi pohon cemara. Jarak antara rumah sekitar 40 meter. Jadi kutebak, hubungan yang terdekat adalah dengan rumah yang ada di seberang jalan.

Aku berbalik ingin menatap rumah di seberang rumah kami. Aku terpaku sesaat, terhipnotip dengan tatapan teduh sekaligus dingin namja berambut short dark brown yang menatap lurus ke arahku. Ia meletakkan tangan kanannya di saku, berdiri tepat di belakang mobilnya. Kami saling menatap dalam diam. Sampai ia meninggalkanku menatap halaman rumahnya yang hanya di tempati oleh mobil merah dan putih yang bahkan sama mempesonanya seperti sang pemilik.

Apa ia baru saja mencuci mobil?? Hahaha bodoh, kenapa aku malah berpikir begitu. Apa karena habis mencuci jadi dia terlihat begitu…ah sudahlah.

Aku melangkah masuk, setelah semua kardus sepertinya telah dibawa masuk. Kubuka satu-persatu kardus yang sudah tergeletak di kamar yang ku klaim sebagai milikku.

Aku mengeluarkan semua isi kardus-kardus itu dan menyusunnya di lemari dan meja yang telah tersedia di kamar ini. Aku membuka laci meja belajar yang terletak tepat di bawah tanganku.

Buku yang indah, itulah kesan pertamaku saat melihat covernya yang sangat menawan dan mengagumkan. Bersinar dengan efeknya dan memiliki pola seperti akar yang melintang. Kusentuh sampulnya. Jiwa penasaranku mulai datang. Ini pasti buku yang cukup penting, kan? Aku berpikir, mengingat keindahan dari covernya. Tapi kenapa ditinggalkan begitu saja disini.

Aku membuka halaman pertamanya.

‘This book belongs to Sojin’

Kalimat itulah yang tertulis rapi disana. Baru hendak membuka lembar selanjutnya eomma meneriakiku dari bawah.

“Sera!!”

“Ya, eomma!” Aku membalas teriakan eomma.

“Cepat bereskan barang-barangmu. Lalu turun untuk makan siang.”

“Hah..,” menghelah nafas, “Aku harus bergegas. Lain kali saja aku membacamu ya, buku. Aku sungguh lapar,” aku melirik jam, “umh sudah jam 3, pantas aku lapar.”

Aku segera menyusun dan merapikan semua barangku yang masih tersisa, menyisakan kardus kosong di sudut agar nanti dibawah Jim ahjumma ke gudang. Well, aku tidak pernah bersahabat dengan kemistikan gudang hehe.

“Eomma..!! Wah..kita terlambat makan siang. Aku benar-benar kelaparan,” aku duduk di meja makan, melihat eomma dan Jim ahjumma bolak-balik dapur dan ruang makan sambil membawa piring-piring.

“Namanya juga baru pindahan,” eommaku berkata lalu duduk di tengah.

“Eomma, aku suka rumah ini. Lingkungannya asri dan juga lahannya luas. Hanya saja, kita cukup jauh bila ingin mersosialisasi dengan tetangga lain, kecuali dengan rumah di seberang jalan,” aku menggigit makananku.

“Ne, lahan yang luas membuat kita jauh dari tetangga di samping. Tapi setidaknya rumah mereka masih bisa dilihat,” eommaku tersenyum.

“Apa pabrik tempat eomma baru dipindahkan benar-benar dekat dari sini?” Alasan kami pindah kemari memang karena pekerjaan eomma. Baru saja ditugaskan untuk mengurus pabrik di dekat sini, kami harus pindah agar eomma lebih dekat dengan pabriknya. Aku pun harus pindah sekolah, mengingat eommalah yang mengantar jemputku sekolah.

“Ya, sekitar 200 meter saja jaraknya. Jadi eomma bisa leluasa dan juga sekolahmu juga dekat. Eomma tidak akan terlambat ke pabrik dan bisa mengantarmu juga,” eomma diam sesaat terlihat berpikir, “Atau kau mau mobil baru? Eomma pikir kau sudah bisa membawa mobil sendiri?

“Aniya, eomma, aku belum membutuhkannya. Lagi pula tadi eomma yang bilang eomma tidak akan terlambat walau harus mengantarku dulu.”

Jim ahjumma, membersihkan beberapa meja pajangan di ruang ini. Aku ingin menanyakan padanya tentang namja di seberang rumah. Kira-kira ia tahu tidak ya? Ahjumma sudah lama kan disini, ia pasti tahu. Tapi melihat eomma di sebelahku, aku tidak jadi menanyakannya. Eomma bisa curiga, bisa-bisa dikira aku menyukai namja itu. Nanti sajalah aku tanyakan. Kami melanjutkan makan siang dalam diam.

Malam ini, kulanjutkan keinginanku siang tadi yang tertunda. Kukeluarkan buku itu, buku milik Sojin menurut yang sudah kubaca tadi.

Kubuka lembar keduanya.

‘Ku lihat namja tinggi itu di depan rumahnya. Tatapannya membuatku bahkan rela mati, jika itu yang ia inginkan dariku. Apa aku menyukainya? Ya tuhan, berikan aku keajaiban agar ia mau menoleh padaku untuk selamanya.’

Tidak ada tanggal disana. Hanya ada sederet kalimat yang dipenuhi dengan kegirangan serta harapan.

“Jadi Sojin mencintai namja itu,” kubalik lagi ke halaman selanjutnya.

‘Tenyata kami satu sekolah. Ia sangat menawan, apalagi saat melihatnya dari dekat seperti di sekolah tadi. Jantungku serasa berhenti berdetak, saking sulitnya bernafas.’

Tanpa tanggal lagi.

“Hahhhh…,” aku mengantuk, sepertinya kisah cinta ini akan berakhir indah seperti kisah cinta lainnya. Lebih baik aku tidur. Besok hari pertamaku di sekolah baru. Aku tidak mau terlambat.

Kututup lembaran buku yang kini kuketahui merupakan buku harian seorang yeoja. Aku mengganti pakaianku dan segera naik ke ranjang, beristirahat untuk menghadapi hari esok.

***

“Sera, maafkan eomma,” tepat saat Seulr menuruni tangga, ia melihat eommanya begitu terburu-buru mengambil tas di meja makan dan menuju ke depan, “Eomma baru ditelpon untuk datang sekarang juga. Maklum ini hari pertama. Kau bisa pergi sendiri, kan?

“Ne, eomma, bisa. Tenang saja sekolahnya juga dekat kan dari sini. Eomma bergegaslah,” eomma Sera mencium pipi anaknya saat Sera duduk di kursi meja makan.

Wanita itu sudah pergi secepat kilat. Sera melihat ahjumma tersenyum hangat. Apa kutanyakan saja sekarang?

“Jim ahjumma,” panggilnya pelan.

“Ye, nona?” Ia berbalik lagi menghadap gadis itu setelah tadi sibuk bersih-bersih.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Ucapnya ragu, sambil meletakkan susu yang baru ia minum.

“Tentu boleh. Apa itu?” Ahjumma begitu ramah.

“Tentang namja di seberang rumah? Ahjumma, ia terlihat begitu dingin,” Ahjumma tersenyum mengengar penuturan Sera.

“Ia anak baik. Memang ia terlihat dingin dari luar, tapi ia sebenarnya sangat ramah,” ah benarkah? Kapan aku bisa melihatnya ramah padaku?

Sera melangkah keluar rumah, dilihatnya kedua mobil namja itu masih terparkir rapih di pekarangan. Ia pasti belum pergi?

Sera melirik jamnya. 5 menit lagi jam setengah 7. Aku harus cepat. Tidak mungkin anak baru terlambat, kan? Belum lagi aku harus ke ruang kepala sekolah dulu sebelum masuk kelas.

Setelah hampir 10 menit berjalan, ia melihat mobil merah berjalan lambat di sampingnya seperti sengaja mengiringi gadis itu. Ia yang penasaran, langsung menghentikan gerak kakinya. Secara cepat menatap mobil di sampingnya yang berhenti juga, sama sepertinya.

Sera menatap kaca mobil itu keheranan. Siapa? Aku tidak kenal siapapun di dekat sini. Apa ada setan di pagi hari begini. She must be crazy to think about that.

Kaca mobil itu perlahan turun, menampakkan seorang namja yang memenuhi pikiran Sera sejak pertama melihatnya.

“Hyunsang High School?” Tanyanya dari balik kemudi.

“Ne,” jawab Sera dengan tatapan kosong.

“Naiklah, kita sama,” gadis itu mulai menemukan jiwanya yang tadi sepertinya terbang entah kemana.

Ia naik ke mobil namja itu. Mereka diam sepanjang perjalanan. She can’t even dare to askes him about his name.

Sera langsung turun dari mobil. Ia harus cepat ke ruang kepala sekolah. Ia pasti akan malu sekali kalau sampai terlambat.

“Hei..” Suara itu menghentikan langkah Sera, ia berbalik, menatap namja itu aneh. Apa ada kesalahan yang kuperbuat. Matilah kau Sera, “Siapa namamu?”

Sera terkaget-kaget, ternyata namanya yang dibutuhkan namja itu. Wah, ini langkah konkret dalam menanyakan nama.

“Aku Park Sera,” gadis itu dengan cepat berlari, tidak ingin mukanya yang seperti udang rebus itu terlihat oleh namja itu.

Ah tunggu, namanya siapa? Ah..aku lupa menanyakannya. Bodoh..hemh dasar idiot.

***

Tok..tok..

Sera mengetuk pintu, sebelum masuk ke dalam kelas yang berlebel 11.1. Ia baru saja ke ruang kepala sekolah dan mendapatkan info dari guru yang ada disana tentang kelas dan buku yang harus ia ambil.

Dengan membawa setumpuk buku yang hanya sanggup ia ambil setengahnya dari ruang administrasi tadi. Ia masuk begitu mendengar sahutan dari dalam.

“Selamat pagi,” kepala gadis itu tertunduk.

“Pagi, ah..kau pasti siswi baru itu kan? Aku sudah mendapat info dari kepala sekolah. Ayo masuk. Oh ya, kurasa kau langsung cari saja bangku yang kosong,” Sera tersenyum dan melangkah maju.

Mata gadis itu menatap keseluruh penjuru kelas. Tidak ada bangku yang kosong, kecuali..ah namja itu. Aku bertemu lagi dengannya. Ia menatapku datar, aku terdiam, masih fokus dengan wajah nan menawan namja itu. Sekaligus kaget, betapa tuhan mendengar permintaanku.

“Kau bisa duduk disana,” ucap gurunya membuat Sera tersadar dari lamunannya dan segera duduk di samping namja berkulit putih itu.

“Hai..,” suara Sera seakan tercekak di tenggorokan untuk membalas sapaan dari namja itu, “Kau Park Sera, kan?”

Sera masih diam, bahkan tidak sanggup menoleh pada namja yang sejak tadi bicara padanya. Bukannya menjawab, ia malah semakin terbenam dalam dunianya sendiri.

Namja itu sedikit malu karena gadis itu terus bungkam. Ia sudah membiarkan dirinya merendahkan sedikit egonya untuk menyapa bahkan menawari gadis itu naik ke mobilnya. Tapi ia malah diabaikan, akhirnya ia memilih diam kali ini.

“Siapa namamu?” Ujar Sera tepat setelah jam pertama berakhir. Sepanjang pelajaran ia hanya memperhatikan ekspresi orang di sebelahnya sambil mencoba fokus pada pelajaran. Walau Sera melihat dari ujung matanya, tapi namja itu bisa menangkap hal itu.

“Siapa namamu?” Kali ini namja itu yang diam, tidak menanggapi orang di sebelahnya. Sera mempout bibirnya, membuat ia terlihat imut dan lucu.

“Kau tidak mau menjawab,” ujar gadis itu lagi.

Detik kemudian namja itu tidak sampai hati membiarkan yeoja disampingnya terus diam dengan ekspresi sedih dan kecewanya.

“Aku Oh Sehun,” Sera langsung menoleh saat mendengar suara namja itu.

“Senang mengenalmu Oh Sehun,” gadis itu menarik tangan Sehun yang tergeletak di atas meja, lalu dengan cepat menjabat tangannya.

Sehun benar-benar merasa lucu dengan gadis itu. Ia begitu manis dan tidak dibuat-buat, selalu melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dipikirannya. Tidak jaga image sama sekali.

***

Sehun memasuki ruangan yang terlihat seperti kamar tidur. Ornamen dan perabotan disana terlihat sudah berumur, namun terawat dan terlihat mahal.

“Eomma, pagi ini aku melihat yeoja itu lagi. Ia begitu lucu dan spontan. Aku beberapa kali dibuatnya hampir mengeluarkan tawaku dengan tindakannya itu. Ternyata ia bersekolah di tempat yang sama denganku,” Sehun duduk di salah satu berwarna coklat gelap.

Disahut oleh suara perempuan yang terdengar bahagia, “Benarkah? Eomma belum melihatnya, nanti saat eomma melihat gadis itu. Eomma baru bisa bicara banyak.”

Sehun terlihat sangat berharap, “Lihatlah dia, eomma. Dia sangat menawan, rambutnya panjang sepinggang, berwarna coklat terang dan wajahnya seperti malaikat. I admire her.”

“Don’t too early to judge something, Sehun. She ables to change easily.”

“Ne, eomma. Saat eomma sudah melihatnya, katakan padaku bagaimana pemikiran eomma tentangnya.”

Sehun beranjak meninggalkan ruangan itu. Ia segera memasuki kamarnya dan menyalakan lampu. Ia menatap ke luar, tepat ke arah jendela yang menampakkan isi kamar gadis itu. Sejak kemarin ia memperhatikan gerak-gerik yeoja itu.

“Aku sangat menyukaimu, Sera,” gumamnya dalam keheningan malam. Senyuman menawan itu kembali menghiasi wajahnya setelah bertahun-tahun. Perasaan itu datang lagi dan ia tidak ingin kehilangan lagi.

Namun sepersekian detik kemudian, senyum itu lenyap. Digantikan oleh tatapan dingin dan tajam, mengarah ke jendela gadis itu.

Gadis itu tersenyum sambil bicara di telepon. Sehun seketika membeku.

Apa? Siapa?..Yang membuat gadis itu tertawa dan tersenyum seperti saat ini. Kenapa dia berekspresi seperti itu? Tidak, ia hanya akan seperti itu padaku. Tidak pada orang lain. Apalagi pada namja lain.

TBC

Advertisements

One thought on “2 SOULS (Gargeous#1)

  1. Pingback: [FREELANCE] 2 SOULS [Chapter 1] | Gallery of Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s